Tampilkan postingan dengan label Heritage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Heritage. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Juli 2017

Yuk Mengenal Dialek Bahasa Jawa "Ga Ge Go" khas Pati, Rembang dan sekitarnya


Indonesia memang dianugerahi kekayaan budaya yang sangat beragam, mulai dari bahasa, baju daerah kebiasaan suku bangsa, makanan, dll. Bahasa daerah merupakan simbol budaya yang cukup bisa menggambarkan kekayaan budaya tersebut di Indonesia. Bahasa Jawa merupakan bahasa daerah yang paling banyak digunakan di Negara Indonesia. Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa terbesar di dunia dengan jumlah pengguna sekitar 80 juta orang dan merupakan bahasa daerah terbesar. Apabila kita membicarakan bahasa jawa tentu sangat beragam jenisnya. Di Jawa Tengah misalnya, antar kota yang dalam 1 provinsi pun bisa berbeda jenis bahasa jawanya.

Pelabuhan Juwana Pati
Bahasa Jawa memang sangat beragam dan keragaman ini masih terpelihara sampai sekarang. Terdapat beberapa dialek bahasa jawa yang khas, dimana saat  seseorang berbicara dengan dialek jawa tertentu kita akan langsung mengetahui asal kota orang tersebut. Yang kita kenal selama ini mungkin dialek 'ngapak' khas banyumasan dan sekitarnya, dialek khas 'arek' Jawa Timur atau dialek bahasa jawa 'medhok' ala Jogja dan Solo. Namun belum banyak yang mengetahui dialek bahasa jawa yang sering dituturkan oleh orang-orang asli Pesisir utara Jawa Tengah bagian Timur. Saya menyebutnya dengan dialek "ga ge go" atau dialek khas pantura Jawa Tengah bagian timur. Dialek ini biasa dituturkan di wilayah Pati, Rembang, Blora, dan sebagian di Tuban Jawa Timur. Dialek ini memang agak asing buat orang yang mendengarnya sekalipun dia berasal dari Jawa Tengah. Saya pun yang sebagai orang Jogja butuh waktu sekian detik buat mendengarkan dan mencerna apa yang dikatakan orang-orang dari wilayah tersebut.

Blora, Kota dimana Bahasa Jawa "Ga Ge Go" sering dituturkan

 Ada beberapa ciri khas yang menonjol dari dialek ini. Misalnya penggunaan akhiran "em" atau "nem" untuk menggantikan akhiran "mu" kata ganti orang. Misalnya "bapakmu" jadi "bapak'em" atau "sepedamu" jadi "sepedanem". Ciri khas lain yang begitu menonjol dan ciri khas ini akan lebih terdengar saat mengobrol dengan mereka yakni tambahan bunyi "aaaaa" (dengan suara lembut dan agak bergoyang) saat mengucap kata-kata tertentu. Misalnya seperti kata "Ayo" jadi "Ayo..aaaa" atau kata "uwis" jadi 'uwis.. aaa". Ciri khas lain yang menonjol juga adalah tambahan kata "leh" atau "go" saat menuturkan kata-kata tertentu. Misalnya "Piye leh kabare" atau " Ojo ngono goo". Menarik memang kalau kita berkesempatan mengobrol dengan orang-orang dari daerah tersebut karena dapat menambah wawasan budaya Jawa. Untuk kata-kata dalam bahasa Jawa sebagian besar tidak jauh berbeda dengan Kota-kota lain di Jawa Tengah, namun dengan dialek yang khas dan cara bertutur kata yang agak cepat membuat kita yang berasal dari luar wilayah tersebut perlu waktu sekian detik untuk mencerna dan memahami.
 

Kamis, 18 Agustus 2016

Jalan-jalan ke Masjid Agung Demak


Yak kali ini, kita mau ajak kamu-kamu sekalian untuk berkunjung ke salah satu masjid legendaris yang ada di Indonesia. Masjid Agung Demak, yak masjid ini dapat dikatakan sebagai masjid tertua di Pulau Jawa yaitu sekitar abad ke-15 Masehi oleh Raden Patah yang juga pendiri Kerajaan Demak. Masjid ini terletak persis di samping alun-alun Kota Demak tepatnya di Kampung Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak. Masjid ini menjadi ikon tersendiri buat Kota Demak dan terletak di jalur strategis yang menghubungkan antara Kota Semarang dan Kota-kota di Jawa Timur. Di dalam kompleks masjid agung demak juga terdapat makam raja-raja kesultanan demak beserta abdi-abdi dalemnya.

Arsitektur Khas
Arsitektur masjid Demak ini mempunyai nilai yang historis yang khas. Tidak heran banyak bangunan masjid agung di beberapa kota di Indonesia terinspirasi dari arsitektur bangunan masjid agung demak ini. Atap masjid ini berbentuk limas yang ditopang oleh delapan tiang yang disebut sebagai saka majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan : Iman, Islam, dan Ihsan. Ciri khas yang lain dari masjid agung demak adalah tiang utama penyangga masjidnya. Di dalam pembangunannya, konon ada empat saka (tiang utama) masjid buatan para wali. Yaitu Sunan Bonang, Sunan Gunungjati, Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga. Nama empat wali itu masih ditempelkan pada empat tiang penyangga utama. Tiang utama itu terlihat kokoh berbahan kayu jati. Konon Sunan Kalijaga membuat tiang itu menggunakan tatalan kayu (serpihan) yang kemudian diikat dan dirangkai hingga membentuk tiang besar panjang, sama dengan tiang-tiang wali lainnya.




Hingga kini masjid agung demak masih kokoh berdiri dan masih ramai dikunjungi oleh para masyarakat atau wisatawan. Saat ini juga telah dibangun museum masjid agung demak yang menceritakan secara detail tentang sejarah pembangunan masjid demak ini. Di bulan-bulan tertentu banyak masyarakat yang melakukan takziah di masjid agung demak ini.

Sabtu, 03 Oktober 2015

Jalan-jalan ke Masjid Menara Kudus


Kudus dapat dikatakan salah satu kabupaten terkecil di Jawa Tengah. Kabupaten Kudus terletak sekitar 53 Km di timur Kota Semarang. Kabupaten yang terletak di Jawa Tengah bagian utara ini menyimpan potensi wisata yang sangat berharga. Kudus juga biasa disebut kota kretek karena di kota ini terdapat pabrik rokok Djarum. Di kudus terdapat satu lokasi wisata religi yang menjadi ikon kota ini yakni menara kudus. Menara ini berada di dalam kompleks masjid Al-Aqsa. Namun warga kudus lebih sering menyebutnya sebagai masjid menara kudus.

Menara eksotis
Aristektur menara kudus memang unik. Dibangun oleh Sunan Kudus pada tahun 1549 M, menara ini lebih menyerupai bangunan candi hindu. Menara ini terbuat dari batu bata ekspose memiliki tinggi sekitar 18 meter. Di bagian atas menara terdapat sebuah bedug raksasa yang akan ditabuh sebagai pertanda akan dimulainya waktu sholat. Bentuk menara ini bergaya Jawa-Hindu, bisa dikatakan ini merupakan bentuk akulturasi budaya Islam dan budaya Hindu yang telah mengakar sebelumnya. Menara kudus bisa dikatakan salah satu tujuan wisata religi favorit karena didalamnya terdapat makam Sunan Kudus. Lokasi menara ini tidak pernah sepi didatangi para peziarah dari berbagai penjuru negeri.

Minggu, 12 Juli 2015

Nostalgia di Museum Kereta Api Ambarawa


Museum kereta api Ambarawa adalah sebuah stasiun tua di jaman dulu yang sekarang dialihfungsikan sebagai museum kereta api. Museum Ambarawa didirikan pada tanggal 6 Oktober 1976. Terletak di pusat kota Ambarawa, di museum ini menyimpan koleksi-koleksi kereta uap yang digunakan sejak jaman penjajahan belanda, bahkan salah satu kereta uapnya masih bisa digunakan hingga sekarang dan melayani perjalanan wisata dari Ambarawa ke Bedono. Untuk menuju museum ini tidaklah sulit. Dari museum palagan ambarawa menuju musium ini hanya berjarak kurang lebih 600 meter.
Kereta uap kuno
Eksotis
Vintage
Untuk bisa menikmati perjalanan wisata menggunakan kereta uap ini pengunjung dikenakan biaya 50 ribu per orangnya. Pengunjung akan diajak bernostalgia menikmati pemandangan alam dari atas gerbong kereta menuju Stasiun Bedono yang jaraknya kurang lebih 35 Km dari Stasiun Ambarawa. Layanan perjalanan wisata ini hanya dibuka pada hari Minggu dengan 3 x keberangkatan. Saat ini museum ambarawa tengah menjalani renovasi untuk lebih meningkatkan kenyamanan pengunjung. Tidak ada salahnya apabila anda sedang bepergian dari Yogyakarta menuju Semarang atau sebaliknya dapat mampir di museum ini untuk sekedar melepas lelah.

Senin, 09 Februari 2015

Jalan-jalan yuk ke Pasar Barang Antik Triwindu Solo


Kota Solo memang mirip dengan Kota Jogja karena menawarkan beberapa lokasi wisata unik yang penuh dengan sejarah. Banyak wisatawan datang ke Kota Solo karena keanekaragaman wisata budayanya. Kota Solo memang salah satu kota besar di Indonesia yang masih memegang teguh tradisi leluhurnya. Salah satu lokasi wisata yang cukup diminati wisatawan baik itu domestik maupun asing adalah pasar triwindu yang khusus menjual barang-barang antik. Lokasi pasar berada di Jalan Diponegoro di kawasan wisata Ngarsopuro, tidak jauh dari lokasi Kraton Mangkunegaran. Pasar ini mirip dengan pasar barang antik di Jalan Surabaya yang terdapat di Jakarta. Lokasi pasar ini menempati lokasi baru yang menggantikan lokasi pasar sebelumnya. Kondisi pasar cukup terawat dan nyaman.

Heritage
Ada skuter juga
Ketika anda memasuki pasar ini, anda akan langsung disambut dengan deretan barang-barang unik yang dapat memanjakan mata. Berbagai macam barang dan perabotan unik dapat anda temukan disini seperti lampu kuno, piring kuno, telepon, radio kuno bahkan kursi dan meja antik. Semua barang dalam kondisi baik dan terawat. Bahkan beberapa barang antik yang dijual di pasar ini adalah barang pusaka peninggalan kraton surakarta dan mangkunegaran. Harga yang ditawarkan cukup bervariasi, makin langka suatu barang tentu makin mahal pula harganya. Pasar ini bisa menjadi salah satu destinasi wisata anda ketika mengunjungi kota Solo.

Minggu, 25 Januari 2015

Sabtu Pagi di Stasiun Tugu Jogjakarta


Semua orang yang berkunjung ke jogja dengan menggunakan transportasi kereta pasti kenal dengan tempat memorable ini. Ya, stasiun tugu jogjakarta. Stasiun ini bukan lagi sekedar untuk tempat penghentian kereta di Kota jogjakarta, tetapi stasiun ini juga merupakan tempat yang berkesan buat sebagian orang yang pernah berlibur atau yang pernah tinggal di Kota Jogja. Buat orang-orang yang traveling ke Jogja dengan menggunakan kereta, ketika tiba di stasiun tugu jogjakarta wajib hukumnya berfoto di depan pintu gerbang stasiun ini. Atau ketika mereka akan kembali ke kota asalnya  juga tak akan melewatkan kesempatan untuk berfoto di icon stasiun ini. Stasiun ini dibangun pada tahun 1887 merupakan salah satu stasiun yang cukup tua dan masih mempertahankan bentuk asli bangunannya. Terletak di tengah-tengah Jalan Mangkubumi dan Jalan Malioboro menjadikan lokasi stasiun ini sangat strategis.

ikonik
 Buat para perantau, kembali ke stasiun ini adalah sebuah hal yang sangat membahagiakan. Kembali berkumpul dengan keluarga walau hanya sebentar adalah kenikmatan yang tiada duanya. Hari Sabtu pagi biasanya adalah waktu paling ramai karena banyak perantau khususnya dari Jakarta pulang ke jogja untuk menghabiskan waktu dengan keluarganya, selain itu banyak juga anak-anak muda entah mahasiswa atau karyawan kantoran yang berasal dari Jakarta datang  ke Jogja menghabiskan waktu untuk liburan. Banyak terlihat pancaran wajah gembira begitu mereka sampai di Stasiun Tugu ini. Bisa dipastikan akan banyak orang yang megantri untuk bisa berfoto di depan pintu gerbang stasiun tugu ini.

Perjalanan Menyenangkan
Saat Minggu malam pun stasiun akan kembali ramai karena para perantau akan kembali ke  tempat di mana mereka bekerja. Buat orang-orang yang berlibur pun akan kembali ke tempat asal dan kembali beraktivitas seperti layaknya di kehidupan mereka sehari-hari. Ada perasaan sedih, senang dan bahagia bercampur menjadi satu saat harus meninggalkan Kota Jogjakarta. Kembali menuju ke tempat mereka untuk merajut asa dengan membawa kesan yang mendalam.

Senin, 08 Desember 2014

Benteng Van der Wijck Kebumen


Benteng Van der Wijck saat ini menjadi salah satu primadona tempat wisata di Kabupaten Kebumen. Ciri khas yang terlihat benteng ini adalah warna merahnya. Nama benteng ini diambil dari Van Der Wijck, yang kemungkinan nama komandan pada saat itu. Nama benteng ini terpampang pada pintu sebelah kanan. Letak benteng ini tidak jauh dari jalan utama Yogyakarta - Gombong. Benteng ini adalah benteng pertahanan Hindia Belanda yang dibangun sekitar abad 18. Pada awalnya benteng ini sebagai barak untuk meredam kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro. Karena kehebatan beliau yang juga didukung pemimpin-pemimpin lokal di selatan Jawa, Belanda menerapkan taktik benteng stelsel yaitu pembangunan benteng di lokasi yang sudah dikuasainya. Tujuannya jelas, untuk memperkuat pertahanan sekaligus mempersempit ruang gerak musuh, terutama di karesidenan Kedu Selatan. Benteng ini didirikan atas prakarsa Jenderal Van den Bosch. Pada jaman penjajahan Jepang, kompleks benteng ini menjadi tempat pelatihan prajurit PETA.

Megah
Benteng Van der Wijck saat ini menjadi salah satu tujuan favorit warga Kebumen dan sekitarnya untuk menghabiskan waktu libur. Keberadaan benteng ini mulai naik daun ketika digunakan syuting The raid yang dibintangi oleh Iko Uwais.Untuk menuju benteng ini tidaklah sulit. Anda tinggal mengarahkan kendaraan anda dari Jogja menuju ke pusat kota Gombong. Setiba di Gombong sudah ada papan penunjuk yang akan menarahkan anda menuju lokasi benteng. Harga tiket masuk benteng ini tergolong mahal untuk sebuah lokasi wisata di kota kecil. Anda harus merogoh kocek sebesar Rp. 25.000,- untuk masuk area wisata ini. Ternyata harga sebesar itu sudah termasuk paket menaiki kereta wisata yang terletak di atas benteng dan masuk ke wahana permainan yang masih satu lokasi dengan benteng ini. Sangat disayangkan memang dengan harga sebesar itu tidak lantas kita akan mendapatkan suguhan wisata yang baik. Ada beberapa bagian dari benteng ini yang kurang terawat. Keberadaan wahana permainan juga cenderung kumuh dan tidak terawat.


Foto sejarah pembangunan benteng

Objek menarik untuk foto

Keberadaan benteng ini seharusnya dapat menjadi primadona wisata di daerah Gombong, kebumen dan sekitarnya. Lokasi ini juga cocok digunakan untuk lokasi pemotretan prewed dan sebagainya. Benteng ini memang sudah mengalami renovasi besar-besaran, hanya saja dengan pengelolaan yang lebih baik dapat menjadikan benteng ini menjadi lebih menarik dan bersih.

Kamis, 25 September 2014

Sunset sempurna di Candi Ijo


Pemandangan matahari terbenam atau sunset merupakan salah satu atraksi wisata favorit untuk para traveler. Di jogja terdapat beberapa lokasi yang keren untuk menikmati sunset. Namun belum banyak orang mengetahui spot keren yang satu ini. Di tempat ini kita bisa menyaksikan pemandangan sunset dengan sempurna tanpa ada halangan apapun. Satu diantaranya yang belum banyak menjadi perbincangan adalah Candi Ijo, sebuah candi yang letaknya paling tinggi di antara candi-candi lain di Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Ijo dibangun sekitar abad ke-9, di sebuah bukit yang dikenal dengan Bukit Hijau atau Gumuk Ijo yang ketinggiannya sekitar 410 m di atas permukaan laut. Karena ketinggiannya, maka bukan saja bangunan candi yang bisa dinikmati tetapi juga pemandangan alam di bawahnya berupa teras-teras seperti di daerah pertanian dengan kemiringan yang curam. Meski bukan daerah yang subur, pemandangan alam di sekitar candi sangat indah untuk dinikmati.

Candi Ijo
Foto Prewed

Candi Ijo terletak di Bukit Ijo, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupatn Sleman. Lokasinya berjarak kurang lebih 4 Km dari Candi Ratu Boko atau 7 Km dari Candi Prambanan. Candi ini mempunyai keunikan dibanding candi-candi lainnya di jogja karena letaknya yang berada di ketinggian. Lokasi candi ini yang menghadap langsung ke arah barat memungkinkan kita untuk melihat pemandangan sunset dengan sempurna. Keindahan pemandangan sunset di Candi Ijo tidak kalah dengan keindahan pemandangan sunset di Istana ratu boko. Karena keindahan itulah banyak wisatawan yang memanfaatkannya untuk berfoto-foto bahkan sesekali terlihat beberapa pasangan yang melakukan foto prewed di candi ini. 

Romantis
 Candi Ijo adalah tempat wisata yang mungkin diabaikan oleh para wisatawan di Jogja, padahal keindahan pemandangan Candi Ijo tidak kalah dengan tempat wisata lain. Mahasiswa atau pelajar jika kesini tidak perlu membayar tiket masuk cukup mengisi buku tamu. Sedangkan wisatawan biasa cukup membayar uang sukarela.

Minggu, 10 Agustus 2014

Sunset di Candi Ratu Boko


Sudah sejak lama Candi Ratu Boko menjadi tempat favorit wisatawan maupun fotografer untuk menikmati suasana sunset atau matahari terbenam di sore hari. Candi Ratu Boko memang terletak di atas bukit dan gerbang utama candi langsung menghadap ke arah barat yang memungkinkan kita dapat melihat sunset tanpa halangan apapun. Untuk mencapai candi Ratu Boko sangatlah mudah karena terletak tak jauh dari Candi Prambanan. Terletak di Desa Bokoharjo Kabupaten Sleman, candi ini hanya berjarak 3 Km dari Candi Prambanan. Lokasi ini sangat cocok bagi anda yang ingin menikmati wisata alam dengan nuansa romantis dan tenang. Karena letaknya yang berada dipuncak bukit dan jauh dari perkotaan memiliki udara yang sejuk dan jauh dari kebisingan. Adapun tket masuk untuk berkunjung ke candi ini yaitu 25 ribu bagi wisatawan domestik dan 90 ribu untuk wisatawan mancanegara.

Membidik momen sunset
Situs Ratu Boko sendiri masih menjadi misteri mengenai historisnya. Tak ada arkeolog yang mengetahui siapa yang mendirikan situs itu. Begitu juga siapa raja yang bertahta di Kraton Ratu Boko. Namun berbagai sumber mengatakan bahwa Candi Ratu Boko merupakan situs arkeologi berupa peninggalan Kerajaan Mataram dari abad ke-8, cikal bakal pendiri Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Menurut sejarah, Keraton Ratu Boko dahulu digunakan pada masa dinasti Syailendra sebelum masa Raja Samaratungga (pendiri Candi Borobudur) dan Rakai Pikatan (pendiri Candi Prambanan). Di situs itu ditemukan prasasti yang dikeluarkan oleh Rakai Panangkaran pada tahun 746-784 Masehi. Situs Ratu Boko disebut Abhayagiri Wiraha. Abhaya berarti tidak ada bahaya, giri berarti bukit, dan wihara berarti asrama atau tempat. Maka Abhayagiri Wihara berarti asrama atau wihara bagi para biksu Buddha yang terletak di sebuah bukit yang penuh dengan kedamaian (tidak ada bahaya).

Gerbang Candi
 Masa selanjutnya, antara tahun 856-863 Masehi, Abhayagiri Wihara diubah namanya menjadi Keraton Walaing dan juga benteng pertahanan oleh Raja Vasal (bawahan) yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni. Prasasti Siwagrha menyebutkan tempat ini sebagai benteng pertahanan yang terdiri atas tumpukan beratus-ratus batu oleh Balaputra. Dari abad 10 hingga abad 16 tidak ada berita yang terkait dengan Keraton Walaing ini. Kisahnya berlanjut ke 90 tahun kemudian. Pada tahun 1790, Van Boeckholtz menemukan adanya reruntuhan kepurbakalaan di situs Keraton Ratu Boko ini. Seratus tahun kemudian, FDK Bosch mengadakan penelitian dan melaporkan hasil penelitiannya yang diberi judul Kraton Van Ratoe Boko. Sejak itulah situs itu dikenal dengan nama Keraton Ratu Boko. Nama Keraton Ratu Boko sendiri berasal dari kata Keraton yang artinya istana raja, Ratu berarti raja, Boko yang berarti Bangau.

Eksotis
Para Fotografer berlomba Mengabadikan Momen
Saat ini memang keberadaan situs candi ratu boko lebih banyak digunakan untuk kegiatan fotografi ataupun pentas seni. Banyak fotografer yang mengabadikan candi ini ketika sore hari. Beberapa pasangan pun seringkali terlihat melakukan foto prewed di kawasan candi ini. Selain Prambanan dan Borobudur, Candi ini patut dijadikan salah satu tujuan wisata ketika anda sedang berada di Jogjakarta.

Senin, 30 Juni 2014

Menelusuri Jejak Masa Lalu Kotagede


Kotagede sudah lama dikenal sebagai penghasil perak di kota Yogyakarta. Masih banyak yang belum mengetahui bahwa di kotagede terdapat situs bangunan-bangunan berarsitektur unik peninggalan kerajaan mataram islam pada jaman lampau. Tulisan ini menyambung tulisan saya tentang kotagede beberapa waktu yang lalu. Tempo hari saya menceritakan penelusuran kotagede di waktu siang hari. Nah kali ini saya akan mengajak jalan-jalan untuk menelusuri kampung tua Kotagede di malam hari. Terlepas dari pusat industri kerajinan perak di Yogyakarta, Kotagede memiliki sejarah dan arsitektur serta budaya yang unik untuk ditelusuri. Kotagede Night Tour merupakan kegiatan jelajah menyusuri perkampungan Kotagede, termasuk memahami dan mempelajari setiap sudut Kotagede yang memiliki tata ruang dan arsitektur unik.

dengan Pak Natsir

Perjalanan dimulai jam 7 malam dan didampingi oleh tokoh masyarakat setempat yang juga sebagai guide yaitu Bapak Natsir.  Perjalanan menelusuri perkampungan di Kotagede ini sangatlah menyenangkan dan mendebarkan. Perjalanan dilalui dengan menyusuri lorong-lorong sempit diantara rumah-rumah dengan berbagai macam arsitektur, mulai dari rumah adat Jawa Joglo dan Limasan, rumah modern hingga perpaduan antara rumah tradisional dengan modern. Sesekali pak natsir menceritakan asal mula didirikan sebuah bangunan. Bulu roma makin berdiri ketika rombongan tour diajak ke rumah kanthil. FYI rumah kantil adalah sebuah rumah kuno tua tak berpenghuni yang pernah dijadikan lokasi syuting 'dunia lain'. Perjalanan terus berlanjut dan kami tiba di sebuah area yang terkenal dengan sebutan Between Two Gates. Dalam bahasa Indonesia, Between Two Gates diartikan sebagai “Di Antara Dua Gerbang”. Frasa ini digunakan untuk menyebut salah satu bentuk sistem tata lingkungan kampung di Kotagede. Di area ini, terlihat rumah-rumah warga sangat dekat dan diantara 2 tembok terdapat atap yang menghubungkan rumah tersebut. Pak Natsir mencoba menguji nyali para peserta tour dengan meminta peserta untuk berjalan satu persatu menelusuri lorong-lorong tua tersebut.

 
Menceritakan sejarah bangunan
seru!!
Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan berakhir di kompleks makam-makam raja mataram. Sebuah pohon beringin raksasa menyambut kami malam itu setelah kamitiba di lokasi terakhir. Meskipun sudah malam, kompleks makam ini masih ramai dikunjungi orang. Tour pun berakhir dengan perasaan penuh makna.

Rabu, 13 Februari 2013

Lorong Tua Kotagede



Kotagede selama ini dikenal sebagai pusat kerajinan perak di Yogyakarta. Kerajinan perak memang telah lama menjadi ikon dari kawasan kotagede di bidang pariwisata. Namun banyak dari kita yang belum mengetahui bahwa kotagede mempunyai nilai historis tinggi. Masih banyak yang belum mengetahui bahwa di kotagede terdapat situs bangunan-bangunan berarsitektur unik peninggalan kerajaan mataram islam pada jaman lampau. Sangatlah mudah untuk menuju ke kawasan kotagede, banyak papan penunjuk jalan yang mengarahkan anda menuju ke kawasan kotagede. Ketika anda akan memasuki kotagede anda akan disambut gapura bertuliskan selamat datang di kawasan kotagede. Jalanan di kawasan kotagede terbilang sempit sehingga anda harus berhati-hati ketika melewatinya. Sebaiknya saya sarankan anda menggunakan motor saja untuk menuju ke kawasan ini, selain mudah mencari parkir anda dapat sedikit leluasa dalam mengendarai jalanan di kawasan kotagede.


Kampung tua Kotagede ini terletak di sebelah barat Masjid Agung Kotagede. Anda dapat memakirkan kendaraan anda di lingkungan masjid atau di parkiran motor sekitar pasar kotagede. Untuk menuju ke lorong kampung kotagede anda dapat berjalan kaki sejauh 300 meter untuk sampai di depan gerbang lorong kampung tua kotagede. Jalan menuju kampung tua kotagede merupakan gang sempit yang hanya mempunyai lebar 2 meter. Yang disayangkan gang ini memang sangat ramai oleh lalu lintas kendaraan warga sekitar, meskipun gang sempit tetapi para warga memacu kendaraan dengan cukup kencang sehingga anda diharuskan untuk berhati-hati. Ironis memang, jalanan kampung wisata yang seharusnya aman buat para pejalan kaki malah digunakan sebagai jalan pintas warga untuk menghindari kemacetan.

Tidak terlalu jauh ketika anda memasuki lorong ini anda akan menjumpai sebuah bangunan unik yang mencolok. Bangunan ini memiliki arsitektur unik dimana di dindingnya terdapat motif ornamen yang cantik dan relief-relief tokoh pewayangan. Bangunan ini diketahui dimiliki oleh seorang pengusaha bernama Rudy Pesik, sehingga warga sekitar menamakannya dengan rumah pesik. Bangunan rumah ini sering dijadikan tempat pemotretan model ataupun pre wedding karena keunikannya, Kla Project dulu juga pernah melakukan syuting video klip “Yogyakarta” di tempat ini. Sepanjang perjalanan kita akan disuguhi bangunan-bangunan unik tempo dulu. 


 Di beberapa bangunan telah diberikan keterangan mengenai sejarah dan fungsi dari bangunan tersebut, namun ada juga beberapa bangunan yang belum terawat sehingga terlihat terbengkalai.  Perjalanan dilanjutkan hingga menuju sebuah persimpangan gapura yang dinamakan pos malang. Dari pos malang arah ke kanan terdapat sebuah bangunan unik yang dinamakan Omah UGM. Bangunan ini dulunya adalah milik keluarga Parto Darsono. Setelah kejadian gempa pada tahun 2006 , bangunan ini dibeli oleh UGM kemudian dibangun menjadi kawasan pelestarian budaya. Bangunan ini sering digunakan untuk kegiatan masyarakat di bidang pelestarian budaya. 


Sebenarnya masih banyak bangunan-bangunan tua di kotagede yang belum terjamah. Namun dikarenakan belum adanya pemandu yang khusus mempelajari kawasan kota tua ini, kita jadi tidak tahu banyak tentang sejarah kampung tua kotagede secara keseluruhan. Kawasan ini sekarang lebih banyak digunakan sebagai tempat hunting foto saja baik oleh fotografer profesional atau amatiran.